Di banyak rumah, pemandangan anak yang sulit lepas dari layar kini menjadi hal yang nyaris biasa. Gawai tidak lagi hanya dipakai untuk belajar, tetapi juga untuk hiburan, media sosial, gim, dan percakapan tanpa henti. Karena itu, isu adiksi gawai pada anak sekolah semakin mendapat perhatian, termasuk dari pemerintah. Pada 10 Maret 2026, Kemendikdasmen mendorong gerakan #SatuJamBerkualitas Bersama Keluarga sebagai respons atas meningkatnya penggunaan gawai dan media sosial pada anak dan remaja, sambil menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah dan orang tua dalam membentuk karakter anak melalui aktivitas sederhana seperti bercerita, berdialog, dan bermain bersama.
Namun, membahas adiksi gawai tidak cukup dengan menyalahkan teknologi. Hubungan antara penggunaan teknologi digital dan kesehatan mental anak sebenarnya cukup kompleks. WHO mencatat bahwa penggunaan teknologi bisa membawa manfaat sekaligus risiko, dan dampaknya tidak sama pada setiap anak. WHO juga menekankan bahwa hubungan itu bisa bersifat dua arah: waktu layar yang berlebihan dapat memperburuk masalah kesehatan mental, sementara anak yang sedang cemas, kesepian, atau tertekan juga bisa semakin sering lari ke layar. Karena itu, pendekatan yang paling bijak bukan melarang secara membabi buta, melainkan memahami pola penggunaan, konteks emosional anak, dan kualitas relasinya dengan keluarga.
Bagi anak sekolah, persoalan ini menjadi serius karena langsung menyentuh fokus belajar. Anak yang terus terdistraksi notifikasi, video pendek, percakapan media sosial, atau permainan daring cenderung lebih sulit mempertahankan konsentrasi dalam waktu lama. Dampaknya tidak selalu langsung terlihat dalam bentuk nilai yang turun drastis. Kadang yang muncul justru tanda-tanda kecil: mudah menunda tugas, malas membaca materi panjang, sulit tidur, emosinya cepat naik, atau tampak hadir secara fisik tetapi tidak benar-benar terlibat saat belajar. Dalam jangka panjang, pola seperti ini bisa mengganggu disiplin belajar, pengendalian diri, dan kesehatan psikologis anak. WHO dan UNICEF sama-sama menekankan bahwa percakapan terbuka, dukungan mental, dan literasi digital dari keluarga maupun sekolah sangat penting untuk merespons masalah ini secara sehat.
Di sinilah keluarga memegang peran yang sangat menentukan. Sekolah memang penting, tetapi rumah adalah ruang pertama tempat anak belajar mengatur kebiasaan. Ketika Kemendikdasmen mengangkat gerakan #SatuJamBerkualitas Bersama Keluarga, pesan utamanya jelas: untuk melawan dominasi layar, anak tidak cukup hanya diberi batasan, tetapi juga perlu diberi pengganti yang bermakna. Anak lebih mudah melepaskan diri dari gawai ketika rumah menyediakan kehangatan, perhatian, dan kegiatan yang membuatnya merasa dilihat. Waktu satu jam yang diisi dengan ngobrol, makan bersama, berjalan santai, bermain, atau sekadar mendengar cerita anak bisa terlihat sederhana, tetapi justru di situlah fondasi kedekatan emosional dibangun. Kedekatan ini penting karena anak yang merasa terhubung dengan keluarganya cenderung lebih terbuka, lebih stabil secara emosi, dan lebih mudah menerima aturan.
Solusi pertama yang perlu dibangun keluarga adalah mengubah relasi dengan anak, bukan sekadar mengurangi jam layar. Banyak orang tua terlalu cepat fokus pada angka: berapa jam anak memegang ponsel, berapa lama bermain gim, berapa menit membuka media sosial. Padahal, sebelum bicara durasi, orang tua perlu memahami mengapa anak begitu lengket pada gawai. Apakah ia sedang mencari hiburan karena bosan, mencari pengakuan dari teman, menghindari tekanan belajar, atau merasa kesepian? UNICEF menyarankan agar orang tua membangun percakapan yang terbuka, mendengarkan tanpa cepat menghakimi, dan menghindari perebutan kuasa yang hanya berujung pertengkaran. Ketika anak merasa dipahami, pembahasan tentang batasan digital biasanya jauh lebih mudah diterima.
Solusi kedua adalah membuat aturan digital keluarga yang jelas dan konsisten. Anak sekolah tidak cukup diberi nasihat umum seperti “jangan main HP terus.” Mereka membutuhkan aturan yang konkret: kapan boleh menggunakan gawai, kapan harus berhenti, area mana yang bebas gawai, dan aktivitas apa yang harus diprioritaskan lebih dulu. Misalnya, tidak ada ponsel saat makan bersama, satu jam sebelum tidur layar dimatikan, tugas sekolah diselesaikan sebelum hiburan digital dimulai, dan akhir pekan diisi sebagian dengan aktivitas keluarga tanpa perangkat. UNICEF menekankan pentingnya membantu remaja menemukan keseimbangan screen time, bukan sekadar menghukum mereka karena terlalu lama menatap layar. Kunci aturan yang sehat adalah konsisten, realistis, dan dijalankan juga oleh orang tua, bukan hanya dibebankan kepada anak.
Solusi ketiga adalah menyediakan alternatif yang lebih menarik daripada layar. Salah satu alasan anak sulit lepas dari gawai adalah karena layar menawarkan rangsangan cepat, instan, dan terus-menerus. Jika rumah terasa membosankan, anak akan kembali mencari kesenangan digital. Karena itu, keluarga perlu menghadirkan aktivitas pengganti yang benar-benar hidup: membaca bersama, memasak, berolahraga ringan, berkebun, bermain papan permainan, membuat proyek kecil, atau mengobrol tentang hal-hal yang disukai anak. Gerakan #SatuJamBerkualitas Bersama Keluarga justru menekankan aktivitas sederhana seperti berdialog, bercerita, dan bermain bersama. Ini penting karena solusi untuk adiksi gawai bukan hanya “mengurangi layar”, tetapi “memperkaya kehidupan offline” anak.
Solusi keempat adalah mendampingi anak mengenali risiko media sosial tanpa menakut-nakuti. Anak sekolah hidup di masa ketika identitas diri, pertemanan, dan rasa percaya diri sering dipengaruhi oleh ruang digital. Mereka bisa mendapatkan inspirasi, informasi, dan koneksi sosial dari media sosial, tetapi juga rentan terhadap perbandingan sosial, tekanan tampil sempurna, cyberbullying, paparan konten berbahaya, dan kelelahan emosional. UNICEF dan WHO sama-sama menekankan pentingnya literasi digital, dialog terbuka, dan dukungan nonmenghakimi dari orang dewasa. Anak perlu tahu bahwa tidak semua yang terlihat di layar adalah realitas, tidak semua interaksi digital itu aman, dan tidak semua validasi harus dicari dari jumlah likes atau komentar.
Solusi kelima adalah membangun kerja sama nyata antara rumah dan sekolah. Sekolah tidak bisa menyelesaikan masalah adiksi gawai sendirian, sama seperti keluarga juga tidak bisa bekerja sendiri. Ketika sekolah mengeluhkan murid sulit fokus, orang tua perlu melihat itu bukan sebagai kritik, melainkan sinyal. Sebaliknya, sekolah juga perlu memahami bahwa banyak keluarga sedang berjuang menghadapi tantangan digital yang tidak sederhana. Karena itu, pendekatan terbaik adalah kolaborasi: edukasi literasi digital, komunikasi rutin soal perilaku belajar anak, pembiasaan penggunaan gawai yang sehat, dan dukungan psikososial bila ada tanda-tanda masalah yang lebih berat. WHO secara khusus mendorong dialog terbuka dalam keluarga, sekolah, dan komunitas untuk meningkatkan kesejahteraan digital anak muda.
Yang juga penting, orang tua perlu peka terhadap tanda bahwa masalahnya mungkin bukan sekadar kebiasaan buruk, tetapi sudah terkait kondisi emosional yang lebih dalam. Jika anak menunjukkan perubahan suasana hati yang tajam, menarik diri dari keluarga, kehilangan minat pada aktivitas non-digital, sulit tidur, terus cemas tanpa gawai, atau prestasinya merosot tajam, orang tua tidak sebaiknya hanya menambah larangan. Bisa jadi anak sedang memakai layar sebagai pelarian dari stres, tekanan sosial, atau masalah psikologis lain. WHO dan UNICEF menekankan pentingnya akses pada dukungan kesehatan mental yang aman, tidak menghakimi, dan mudah dijangkau bagi anak dan remaja. Dalam situasi seperti ini, kehangatan keluarga perlu berjalan seiring dengan bantuan profesional bila diperlukan.
Pada akhirnya, menjaga fokus belajar anak di era digital tidak bisa diselesaikan dengan satu aturan tunggal. Keluarga perlu hadir bukan hanya sebagai pengawas, tetapi sebagai tempat pulang yang membuat anak tidak selalu mencari pelarian ke layar. Itulah mengapa gerakan #SatuJamBerkualitas Bersama Keluarga terasa relevan: ia mengingatkan bahwa hubungan yang hangat, perhatian yang utuh, dan waktu yang sungguh-sungguh diberikan kepada anak masih menjadi salah satu benteng terkuat melawan adiksi gawai. Teknologi akan tetap menjadi bagian dari hidup anak sekolah. Tantangannya bukan menjauhkan anak sepenuhnya dari dunia digital, melainkan membimbing mereka agar mampu hidup seimbang, belajar dengan fokus, dan tumbuh sehat secara emosional di tengah arus layar yang tak pernah berhenti.